Baris Iklan

Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Juli 2010

BANGUN DARI KOMA, REMAJA KROASIA BISA BAHASA JERMAN

Seorang gadis Kroasia berusia 13 tahun yang koma saat bangun menjadi lancar berbahasa Jerman.

Menurut orangtuanya, gadis itu, dari kota Knin di selatan Kroasia, sebelumnya tidak lancar berbahasa Jerman. Ia justru baru saja mulai belajar bahasa Jerman di sekolah dan sedang membaca buku dan menonton TV Jerman demi meningkatkan kemampuannya.
Ketika bangun dari koma selama 24 jam, dia tidak langsung mampu berbicara bahasa Kroasia, tetapi malah berkomunikasi dalam bahasa Jerman dengan sangat baik.
Para dokter di Rumah Sakit Split KB menyatakan bahwa kasus ini sangat tidak biasa. Berbagai ahli telah memeriksa gadis itu. Mereka mencoba untuk mencari tahu apa yang memicu perubahan tersebut.
Direktur Rumah Sakit, Dujomir Marasovic, seperti dikutip Telegraph, mengatakan, “Anda tidak tahu saat pulih dari trauma semacam itu bagaimana otak bereaksi. Tentu saja kami memiliki sejumlah teori meskipun saat ini kami dibatasi untuk menyampaikan hal itu karena kami harus menghormati privasi pasien.”
Ahli kejiwaan Dr Mijo Milas menambahkan, “Dulu, ini akan disebut sebagai keajaiban, kami lebih suka berpikir bahwa mestinya ada penjelasan logis—hanya saja yang kami belum menemukannya.

Jumat, 23 Juli 2010

AWAN LANGKA MUNCUL DI ATAS LANGIT INGGRIS

http://malindofm.com/wp-content/uploads/2010/07/awan.jpg

Awan langka yang terlihat terang saat malam hari, muncul di Inggris sepekan ini. Awan biru menakutkan itu terlihat beberapa pekan setiap musim panas.Awan itu terbentuk di musim panas saat bumi memantulkan sinar matahari di bagian atas atmosfer.Awan terlihat dari jam 23.00 sampai 04.00 setiap malam di tempat yang jauh dari polusi cahaya.

Peneliti memperkirakan awan itu dapat dilihat di Inggris, Eropa Utara dan Amerika Utara antara garis lintang 50 dan 60 derajat utara.

Awan bercahaya itu terbentuk di ketinggian sekitar 55 mil di atas permukaan laut di daerah yang dikenal dengan Mesosfer, wilayah paling dingin di atmosfer bumi dengan suhu 150C.

Rabu, 10 Maret 2010

10 BENCANA TERBESAR DALAM SEJARAH INDONESIA

http://davidnyaoctavi.files.wordpress.com/2009/10/gempa_sumatera_barat_1.jpg

Bencana berarti suatu kejadian yang menimbulkan kerusakan, penderitaan, kerugian bahkan kematian pada manusia ataupun lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas alam maupun manusia.Dari penyebabnya,,,,

bencana dapat dibagi 2: bencana alam dan bencana manusia
Dampak dari bencana sangat tergantung pada:
1. Sumber/Jenis Bencana : mulai dari banjir, gempa bumi hingga tumbukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban manusia.
2. Kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana: manajemen dan deteksi dini bencana seperti pengungsian.
3. Tempat /Lokasi : Aktivitas alam tidak akan menjadi bencana di daerah tidak berpenghuni, misalnya gempa bumi di pulau tidak berpenduduk.
4. Daya Tahan Manusia dan Lingkungan : seberapa kuat manusia dan lingkungan menghadapi bencana (teori evolusi)

Setiap bencana baik alam maupun karena human error, meninggalkan duka, trauma, kesan, dan sejarah yang tak terlupakan, baik oleh korban dan keluarganya maupun penduduk dunia. Untuk mengingat kembali bencana-bencana terbesar yang terjadi di nusantara, baik alam maupun kecelakaan (dalam hal kecelakaan transportasi udara, darat dan laut) yang terus dikenang oleh masyarakat sepanjang sejarah.


10 Bencana Alam Terbesar Sepanjang Sejarah di Nusantara

Berikut ini 10 bencana alam terbesar (korban meninggal lebih 100 orang) yakni :

1. Tsunami 26 Desember 2004 di Aceh, Nias, Asia Selatan, Asia Tenggara dan Afrika. Korban lebih 200.000 orang (150.000 orang di Aceh dan Nias). Ketinggian tsunami mencapai 35 meter karena gempa tektonik 8.5 SR di Samudera Hindia.
2. Gunung Tambora meletus, tahun 1815. Korban 92.000 orang.
3. Tsunami Gunung Krakatau meletus, 26 Agustus 1883. Korban 36.417 orang.
4. Gempa tektonik 6.2 SR di Yogyakarta, 27 Mei 2006. Korban 6.234 orang.
5. Gunung Kelud, meletus 19 Mei 1919. Korban 5.115 orang.
6. Tsunami Ende, Flores-NTT, 12 Disember 1992. Korban 2100 orang.
7. Gempa bumi 6,5 SR Sulawesi Tengah, 4 Mei 2000. Korban 386 orang.
8. Tsunami pantai selatan Jawa (Pangandaran) 17 Juli 2006. Korban lebih 341 orang.
9. Tsunami Banyuwangi-Jawa Timur pada 3 Juni 1994. Korban 208 orang.
10.Tsunami Sumba-NTT, 19 Agustus 1977. Korban 189 orang.


10 Bencana Transportasi Terbesar Sepanjang Sejarah di Nusantara

Berikut ini 10 bencana transportasi terbesar (korban meninggal lebih 100 orang) yakni :

1. Kapal Tamponas 2 : January 1981 - terbakar dan tenggelam di Laut Jawa, 580 orang tewas.
2. Kapal Cahaya Bahari : 29 Juni 2000 - tenggelam di Sulawesi, 550 orang tewas.
3. Kapal MV Senopati Nusantara : 29 Desember 2006 - tenggelam dekat Pulau Mandalika, lebih 461 orang tewas.
4. Kapal Bismas Raya 2 : Oktober 1999 - tenggelam di Merauke-Papua, 361 orang tewas.
5. Kapal Gurita : January 1996 - tenggelam di Sabang-Aceh, 338 orang tewas.
6. Pesawat Garuda Indonesia GA-152 : 26 September 1997 - jatuh di Sibolangit-Medan, 222 orang dan 12 awak tewas. (Bencana pesawat terbang terburuk dalam sejarah Indonesia)
7. Kapal KMP Digul : 8 Juli 2005 - tenggelam di Merauke-Papua, 200 orang tewas.
8. Pesawat Adam Air Flight 574 : 1 Januari 2007 - jurusan Jakarta-Manado via Surabaya jatuh di Selat Makassar di kedalaman 2.000 meter, 102 orang dan awak tewas terkubur di dasar laut bersama pesawat.
9. Kereta Api Bintaro Jaya : 31 Oktober 1987 - bertabrakan di Jakarta, 102 orang tewas.
10.Pesawat Mandala Airlines RI-091 Boeing 737-200 : 5 September 2005 - gagal take off dari Bandara Polonia (Medan-Jakarta) dan menabrak perumahan penduduk di Medan, 100 orang dan awak tewas serta 41 penduduk tewas.


Bencana, Dampak dan Antisipasinya

Para peneliti bencana berpendapat bahwa semua faktor bencana berhubungan dengan tindakan manusia. Sebuah bencana tidak akan menjadi bencana yang mematikan/merusakkan bila sebelum bencana dilakukan tindakan-tindakan pencegahan atau antisipasi kemungkinan bencana. Mungkin sebagian orang masih berpendapat bahwa bencana alam tidak dapat diprediksi, karena hanya “Tuhan” yang tahu kapan suatu bencana alam akan terjadi.
Namun, para ahli dan mereka yang peduli dengan gejala alam tidak menyerah sampai di titik itu. Mereka percaya bahwa sebelum bencana yang lebih besar akan terjadi, selalu diawali gejala atau tanda bencana tersebut. Yang menjadi tantangan terbesar adalah bagaimana mendapatkan informasi atau gejala bencana itu secepatnya mungkin, lalu diinformasikan ke masyarakat untuk melakukan evakuasi dan sebagainya.
Inilah terobosan terbesar manusia dari pelajaran dan pengalaman dari sebuah bencana. Telah banyak kasus bencana alam seperti topan, efek tsunami, dan perubahan iklim ekstrim dapat diminimalisasi. Semua tindakan pencegahan dan antisipasi bencana termasuk dalam manajemen bencana.
Dengan manajemen resiko, kita mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk dari bencana tersebut, sehingga ada persiapan mereduksi akibat. Contoh, penggunaan helm ketika mengendarai motor, membuat rumah yang resistan terhadap gempa (di Jepang), pengungsian terpadu ketika banjir, gempa maupun tsunami. Di Indonesia, manajemen resiko terhadap bencana alam maupun oleh manusia masih cenderung rendah. Pemerintah dan segenap elemen sudah semestinya mengadakan program edukasi terpadu bagi masyarakat kita dalam mengantisipasi bencana manusia, terutama kecelakaan transportasi, serangan penyakit, kerusuhan, maupun bencana alam seperti banjir, kekeringan dan gempa.

source :http://the-lounge-blog.blogspot.com/2009/04/10-bencana-terbesar-sepanjang-sejarah.html

gempa cili

Gempa bumi dahsyat berkekuatan 8,8 skala Richter yang mengguncang Chile akan mengubah seluruh perputaran Bumi dan memperpendek lamanya hari di planet kita, demikian seorang ilmuwan NASA seperti dikutip Space.com, Selasa(03/03).

Gempa Chile yang tercatat sebagai gempa terkuat ketujuh dalam sejarah ini sepertinya bakal memperpendek lama hari di Planet Bumi sampai 1,26 milidetik, kata ilmuwan peneliti Richard Gross dari Laboratorium Populasi Jet, NASA, di Pasadena, California.

"Mungkin yang lebih menarik adalah seberapa kuat gempa bumi Chile itu menggeser poros Bumi," kata para pejabat NASA, dalam pernyataan terbarunya Senin waktu AS (Selasa WIB).

Model komputer yang digunakan Gross dan rekan-rekannya untuk menentukan dampak dari dampak Gempa Chile juga mendapati bahwa gempa itu tampaknya telah menggeser poros Planet Bumi sampai kira-kira 3 inci (8 cm atau 27 milimiliardetik).

Poros Bumi tidak sama dengan kutub utara-selatan planet ini, yang berputar sekali setiap hari dengan kecepatan sekitar 1.000 mph/mil per jam (1.604 kph, km per jam).

Poros Bumi adalah poros di mana massa Planet Bumi seimbang. Poros ini bercabang dari sumbu utara-selatan Bumi sampai kira-kira 33 kaki (10 meter).

Gempa bumi dahsyat telah mengubah hari-hari di Bumi dan porosnya di masa lalu. Gempa Sumatera tahun 2004 yang berkekuatan 9,1 skala Richter, yang memicu gelombang tsunami, telah memperpendek hari sampai 6,8 mikrodetik dan menggeser poros Bumi sampai sekitar 2,76 inci (7 cm, atau 2,32 miliardetik).

Satu hari Bumi sama dengan sekitar 24 jam. Dalam hitungan tahun, lama satu hari normal berubah secara gradual sampai satu milidetik. Hal itu bertambah di musim dingin, manakala Bumi berputar lebih lambat, dan berkurang pada masim panas, kata Gross.

Gempa Chile lebih kecil dibandingan getaran Gempa Sumatera, namun dampak Gempa Chile terhadap Planet Bumi lebih besar karena lokasinya ada di garis lintang tengah Bumi, bukan di garis khatulistiwa seperti Gempa Sumatera.

Patahan yang mengakibatkan gempa Chile 2010 juga teriris di Bumi pada sudut yang lebih curam ketimbang patahan pada Gempa Sumatera, demikian para ilmuwan NASA.

"Ini yang membuat patahan Chile lebih efektif dalam menggerakan massa Bumi secara vertikal, dan oleh karena itu lebih efektif dalam menggeser poros Planet Bumi." kata para ilmuwan NASA.

Gross menyatakan penemuannya ini didasarkan pada data awal yang tersedia pada Gempa Chile. Karena inofrmasi mengenai karakteristik gempa semakin terbuka, prediksanya mengenai dampak Gempa Chulie mungkin berubah.

Gemp Chile menewaskan lebih dari 700 orang dan menyebabkan kehancuran di seluruh penjuru negara di Amerika Selatan itu.

Beberapa teleskop raksasa di Gurun Atacama, Chile, lolos dari dampak merusakkan dari gempa, demikian Observatorium Selatan Eropa.


Sebuah instrumen satelit NAS pengukur kadar garam yang dipasang di sebuah satelit Argentina juga selamat dari guncangan gempa, demikian para pejabat JPL.

Instrumen bernama Aquarius itu berada di kota Bariloche, Argentina, yang sebelumnya sudah ditempatkan pada satelit Satelite de Aplicaciones Cientificas (SAC-D). Fasilitas integrasi satelit kira-kira berjarak 365 mil (588 km) dari episentrum Gempa Chile.
http://media.vivanews.com/images/2008/12/23/61530_tsunami_di_aceh.jpg

Instrumen Aquarius dirancang untuk bisa menyediakan peta global bulanan mengenai konsentrasi garam dari samudera, ademi menjejak sirkulasi sekarang ini dan perannya dalam perubahan iklim.

Jumat, 19 Februari 2010

DITEMUKANNYA AIR DI BULAN

new-face-001Bukti kuat tentang adanya air di permukaan bulan telah ditemukan oleh tiga penelitian spektroskopis berbasis-satelit terpisah. Meskipun jumlah air yang ada kelihatannya kecil, namun ini dianggap berpotensi bermanfaat bagi para astronot yang mengunjungi bulan.

“Pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya hanya mendeteksi hidrogen dan tidak pernah dibuktikan dengan apa hidrogen tersebut terikat,” kata Roger Clark di US Geological Survey di Denver, yang juga terlibat dalam dua dari penelitian ini. “Sekarang telah dilaporkan pendeteksian ikatan kimia OH dan H2O.”

Carle Pieters di Brown University, US, dan timnya – yang anggotanya termasuk Clark – menganalisis data yang diambil selama berlangsungnya misi India’s Chandrayaan-1 di akhir tahun 2008. Spektrometer M3 (moon mineralogy mapper) NASA merekam serapan inframerah (IR) di dekat 2,8 sampai 3,0 mikrometer – yang konsisten dengan OH dan H2O – mendekati kutub lunar pada permukaan teratas dari bulan.

Clark selanjutnya menganalisis ulang data spektroskopis IR yang dikumpulkan pada pesawat Cassini di tahun 1999. Dia kembali mengidentifikasi serapan di dekat 3 mikrometer dekat ke kutub dan pada ketinggian rendah. Dia mengatakan bahwa jumlah air “yang terlihat” kelihatannya berkisar antara 10 sampai 1000 ppm.

new-body-001

Diduga bahwa ketika permukaan bulan terpapar terhadap ion-ion hidrogen dalam solar wind, oksigen terlepas dari mineral-mineral lunar dalam bentuk OH dan H2O

Dukungan tambahan untuk keberadaan air ini datang dari Jessica Sunshine di University of Maryland, US, dan rekan-rekannya yang mengumpulkan data di bulan Juni 2009 pada pesawat-satelit Deep Impact. Memenuhi permintaan tim Pieter mereka mengkaji tempat-tempat sama pada waktu yang berbeda dengan menggunakan spektrometer IR. Mereka mendeteksi OH dan H2O terikat yang menutupi banyak permukaan bulan.

Sunshine menambahkan bahwa pola harian yang diamati timnya menunjukkan bahwa pembentukan dan retensi OH dan H2O merupakan sebuah proses kontinyu. Temuan-temuan ini semakin membenarkan “solar wind theory” tentang mengapa ada air di bulan, tambah Sunshine. Teori ini menyebutkan bahwa ion-ion hidrogen dalam solar wind melepaskan oksigen, dalam bentuk OH dan H2O, dari permukaan bulan.

“Hasil Chandryaan-1 merupakan penemuan yang pertama tetapi instrumen M3 hanya mencakup sebagian panjang gelombang yang relevan,” kata Paul Lucey, seorang ahli dalam sains planet dan penginderaan jarak jauh di University of Hawaii. “Pengukuran Cassini mencakup semua panjang-gelombang relevan, sehingga mengkonfirmasi dan menguatkan temuan ini tetapi pada resolusi yang sangat rendah. Pengukuran Deep Impact juga mencakup kisaran panjang-gelombang yang diperulkan untuk konfirmasi, dan mampu mengukur tempat-tempat sama pada waktu-waktu yang berbeda, yang menunjukkan bahwa air tersebut sedang bermigrasi pada permukaan bulan.”

Untuk memberikan gambaran tentang kuantitas air yang ditemukan itu, Sunshines mengatakan: “Jumlah air yang kita bicarakan ini masih lebih kecil dari jumlah air yang terdapat dalam tanah padang pasir yang paling kering di Bumi.”

Para peneliti tertarik dengan ide untuk mengumpulkan air tersebut. “Ada kemungkinan sumber air statis dapat dijebak secara langsung oleh para astronot,” kata Lucey. Tetapi dia mengingatkan bahwa sumber tersebut akan sangat kecil dan memerlukan kolektor yang sangat besar.

Disadur dari: chemistryworld

Related Posts with Thumbnails